Jumat, 06 September 2013

tugas kuliah





MAKALAH PERENCANAAN PEMBELAJARAN


2394_53865924421_2578539_a.jpg


Disusun oleh
DIANA MELIANTIKA(06121014022)
Dosen pembimbing
Dra.MASITOH M.Pd


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI












Bab 1
Pendahuluan

A.    Latar belakang
              Perencanaan merupakan proses awal dimana memutuskan  tujuan dan cara pencapaiannya. Perencanaan adalah hal yang sangat esensial karena dalam kenyataanya perencanaan memegang peranan lebih bila dibanding dengan fungsi-fungsi manajemen yang lainnya, yaitu pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan. Dimana fungsi-fungsi manajemen tersebeut sebenarnya hanya merupakan pelaksanaan dari hasil sebuah perencanaan  seorang guru harus memiliki perencannan dalam mengajarnya karena dengan perencanaan guru memiliki materi  atau bahan mengajar yang cukup baik.
Pembelajaran adalah perpaduan dari dua aktivitas, yaitu aktivitas mengajar dan aktivitas belajar. Aktivitas mengajar menyangkut peranan seorang guru dalam konteks mengupayakan terciptanya jalinan komunikasi harmonis antara pengajar itu sendiri dengan si pembelajar. oleh karena itu kita sebagai pendidik sebaiknya membuat rancangan pembelajaran yang dapat diterapkan dengan baik saat proses belajar-menajar berlangsung.


B.                 Rumusan masalah
             Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini antara lain:
1.    apa pengertian perncenaan?
2.    Alasan mengapa guru PAUD harus memiliki perencanaan ?
 3. Bagaimana membuat prencanaan ?

C.       Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang:
1. untuk mengetahui    Pengertian perencanaan
2. untuk mengetahui   Alasan mengapa guru PAUD harus memiliki perencanaan ?
 3 .untuk mengetahui  Bagaimana membuat prencanaan



Apa itu perencanaaan ?

Perencanaan terjadi pada semua kegiatan. Perencanaan merupakan proses awal dimana manajemen memutuskan  tujuan dan cara pencapaiannya. Perencanaan adalah hal yang sangat esensial karena dalam kenyataanya perencanaan memegang peranan lebih bila dibandng dengan fungsi-fungsi manajemen yang lainnya, yaitu pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan. Dimana fungsi-fungsi manajemen tersebeut sebenatnya hanya merupakan pelaksanaan dari hasil sebuah perencanaan 
Perencanaan pembelajaran adalah catatan-catatan hasil pemikiran awal seorang guru sebelum mengelola proses pembelajaran. Masih dalam sumber yang sama, perencanaan pembelajaran adalah persiapan mengajar yang berisi hal-hal yang perlu atau harus dilakukan oleh guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan pembeajaran yang antara lain meliputi unsur-unsur: pemilihan materi, metode, media, dan alat evaluasi.                                                                      Perencanaan pembelajaran adalah apa yang akan dikerjakan guru dan siswa di dalam kelas dan di luar kelas (Reiser 1986 dalam Djoehaeni: 4). Perencanaan pembelajaran adalah memproyeksikan tindakan apa yang akan dilaksanakan dalam suatu pembelajaran (Sujana 1988 dalam Djoehaeni 2009: 5). Perencanaan pengajaran adalah kegiatan merumuskan tujuan apa yang akan dicapai oleh suatu kegiatan pengajaran, cara apa yang dipakai untuk menilai tujuan tersebut, materi bahan apa yang akan disampaikan, bagaimana cara menyampaikannya, serta alat atau media apa yang diperlukan (Ibrahim 1993 dalam Djoehaeni 2009: 6).                            Apabila melihat definisi di atas dan pada beberapa sumber lain, seringkali terjadi penggunaan istilah “perencanaan pembelajaran” dan “perencanaan pengajaran”. Bahkan ditemukan pula pada salah satu buku, judul bukunya “Perencanaan Pembelajaran”, tapi sub bahasan di dalamnya menggunakan istilah “Perencanaan Pengajaran”. Termasuk definisi di atas  (Ibrahim 1993 dalam Djoehaeni 2009: 6) juga ditemukan pada rangkaian sub bahasan “Pengertian Perencanaan Pembelajaran”. Apakah kedua istilah tersebut sama?                                        Mari kita ingat dari kata dasarnya atau makna harfiah. Dari kedua istilah di atas, perbedaannya terjadi pada kata “pembelajaran” dan “pengajaran”. Dalam KBBI, pembelajaran adalah proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar (Pusat Bahasa 2005: 17). Masih dalam sumber yang sama, pengajaran adalah proses, cara, perbuatan mengajar atau mengajarkan. Apabila kita memperhatikan pengertian di atas, maka pembelajaran tampaknya lebih memberikan kesan lebih baik atau lebih mendalam, yakni menumbuhkan keinginan belajar pada siswa. Sedangkan pengajaran tampaknya lebih terfokus pada proses transfer ilmu dari guru kepada siswa. Adapun siswa mengerti atau tidak, termotivasi untuk belajar mandiri atau tidak, semuanya tidaklah tercakup pada nilai-nilai dari sebuah pengajaran.                 
    Berikut ini adalah pengertian dan definisi perencanaan:

# INDRA BASTIAN
Perencanaan adalah suatu proses yang tidak pernah berakhir. Apabila sebuah rencana telah ditetapkan, maka dokumen menyangkut perencanaan terkait harus diimplementasikan

Perencanaan adalah pemilihan sekumpulan kegiatan dan pengambilan keputusan tentang "apa yang harus dilakukan, kapan, bagaimana, dan oleh siapa.

# DEACON
Perencanaan adalah upaya menyusun berbagai keputusan yang bersifat pokok, yang dipandang paling penting dan yang akan dilaksanakan menurut urutannya guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan

# DRUCKER
Perencanaan adalah suatu proses yang diorganisasi dan dilaksanakan secara sistematis dengan emnggunakan pengetahuan yang ada sesuai keputusan yang telah ditetapkan bersama

# GOETZ
Perencanaan adalah kemampuan memilih satu kemungkinan dari berbagai kemungkinan yang tersedia dan yang dipandang paling tepat untuk mencapai tujuan.

# ANONIM
Perencanaan adalah suatu rangkaian kegiatan yang disusun secara sistematis untuk mencapai yujuan yang telah ditetapkan . diputuskan bersama

# GEORGE PICKETT & JOHN J. HANLON
Perencanaan adalah proses menentukan bagaimana mencapai suatu tujuan begitu tujuan itu ditetapkan

# STONER 
Perencanaan adalah proses menetapkan sasaran dan tindakan yang perlu untuk mencapai sasaran tadi. Perencanaan adalah proses menetapkan sasaran atau tujuan dan tindakan yang perlu untuk mencapai tujuan (goal) tersebut

# CUNINGHAM
Perencanaan adalah menyelesi dan menghubungkan pengetahuan, fakta, imajinasi, dan asumsi untuk masa yang akan datang dengan tujuan memvisualisasi dan emformulasi hasil yang diinginkan, urutan kegiatan yang diperlukan, dan perilaku dalam batas-batas yang dapat diterima dan digunakan dalam penyelesaian

# HUSEIN UMAR
Perencanaan merupakan kegiatan atau proses membuat rencana yang kelak dipakai perusahaan dalam rangka melaksanakan pencapaian tujuannya

Jadi, perencanaan pembelajaran adalah rencana yang dibuat oleh guru untuk memproyeksikan kegiatan apa yang akan dilakukan oleh guru dan siswa agar tujuan dapat tercapai. 

Alasan mengapa guru PAUD harus memiliki perencanaan ?
Alasannya dikarenakan pembelajaraan adalah  proses yang diatur menurut langkah-langkah tertentu (sistematis) melibatkan berbagai unsur atau komponen pembelajaran secara terpadu (sistemik). Pengaturan yang dilakukan secara sistematis dan sistemik dimaksudkan agar proses pembelajaran dapat berjalan secara logis, efektif dan efisien. Pengaturan ini secara praktis dibuat dalam bentuk perencanaan mengajak.
Perencanaan pembelajaran  adalah suatu proyeksi  mengenai  kegiatan atau proses yang akan dilakukan selama pembelajaran  berlangsung.  Dalam Peraturan Peraturan PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan , bahwa perencanaan  pembelajaran tersebut meliputi dua jenis yaitu : pertama Silabus Pembelajaran dan kedua Rencana Pelaksaaan Pembelajaran” (BAB IV Pasal 20).                                                                                                                               Perencanaan pembelajaran (intuctional desain), memperkirakan dan memproyeksikan tindakan atau aktivitas yang akan dilakukan pada saat pembelajaran. mengingat perencanaan sebagai proyeksi kegiatan, maka kedudukannya dalam sistem pembelajaran menjadi amat strategis. Anda dapat membayangkan apabila kegiatan pembelajaran sebagai upaya untuk merubah perilaku siswa, dan tidak melalui perencanaan yang matang, maka dapat dibayangkan akan seperti apa proses pembelajaran itu. Dampaknya terhadap proses dan hasil pembelajaran secara khusus dan penyidikan pada umumnya sulit diprediksi. Andai kita boleh membandingkan, dilihat dari resiko atau dampak yang dapat ditimbulkan, nampaknya lebih berbahaya pembelajaran yang tidak direncanakan dari pada membuat satu bangunan rumah. Keduanya beresiko, tapi karena pembelajaran langsung berhubungan dengan “pencetakan manusia”, kerugian akan lebih patal dibandingkan dengan bentuk bangunan yang dihasilkan jika tanpa perencanaan. Disinilah letak atau esensi pentingnya perencanaan pembelajaran, terutama dilihat dari beberapa segi sebagai berikut:
Pertimbangan Praktis
1) Perencanaan sebagai pedoman atau panduan
Dengan perencanaan yang telah dibuat, maka guru ketika melaksanakan proses pembelajaran secara umum akan mengikuti langkah-langkah atau prosedur  dan aktivitas pembelajaran disesuaikan dengan rencana yang telah dibuat sebelumnya. Dengan demikian pada saat mengajar guru selalu menggunakan  perencanaan sebagai pedoman “ Intuctional design describe procedures for intructional  implementation ” (Reigeluth. 1983 : 10).
Apabila setiap guru ketika mengajar selalu membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dan secara disiplin patuh terhadap perencanaan yang telah dibuat ketika mengajarnya,  maka tidak akan terjadi adanya kesenjangan antara pelaksanakan pembelajaran dengan kurikulum yang ada di atasnya, seperti dengan silabus pembelajaran dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan lebih jauh lagi dengan sasaran tujuan pendidikan nasional.
2) Perencanaan menggambarkan hasil
Perencanaan selain merupakan gambaran proyeksi kegiatan yang akan dilakukan, juga melalui fungsi praktis perencanaan pembelajaran adalah menggambarkan hasil yang akan atau harus dicapai dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan.
Perencanaan adalah proses dan cara berpikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapkan (Ely, 1979). Oleh karena  itu untuk merumuskan tujuan pembelajaran sebagai bagian dari sistem perencanaan pembelajaran, indikator atau tujuan pembelajaran harus dirumuskan dalam bentuk tingkah laku operasional yang terukur. Melalui rumusan tujuan/indikator  yang operasional sasaran hasil pembelajaran yang akan  atau harus dicapai siswa sudah tergambarkan secara jelas. Itulah salah satu ciri dari fungsi perencanaan pembelajaran menggambarkan hasil.
3) Perencanaan sebagai alat kontrol
Sasaran utama kegiatan pembelajaran adalah tercapainya tujuan pembelajaran , indikator tercapainya tujuan  pembelajaran adalah “perubahan perilaku“ pada setiap siswa. Perubahan perilaku baik dalam bentuk pengetahuan, sikap maupun keterampilan adalah perubahan yang disengaja atau direncanakan. Oleh karena itu setiap kegiatan pembelajaran baik dilakukan di dalam kelas maupun diluar kelas selalau harus dalam kegiatan terencana dan terkontrol. Reigeluth menyatakan Intructional design describe procedure for intructional management”.
Management dalam kata lain adalah pengelolaan, salah asatu unsur dari pengelolaan itu pengawasan atau kontrol. Maksud dari kegiatan pengawasan atau kontrol adalah untuk mengetahui pelaksanaan atau kegiatan yang dilakukan apakah berjalan sesuai dengan yang direncanakan atau tidak. Dari pengontrolan ini juga dapat diketahui apakah berbagai sumber kegiatan dapat digunakan secara efektif dan efisien.
Dengan adanya perencanaan pembelajaran yang berfungsi sebagai alat kontrol, maka apabila terjadi adanya kegiatan pembelajaran yang tidak sesuai dengan skenario pembelajaran akan segera diketahui dan pada saat itu pula pembelajaran dikembalikan kepada rencana yang telah disusun. Dengan demikian peluang terjadinya in-efisiensi dan in-efektivitas dalam proses dan hasil pembelajaran akan bisa dikurangi. Oleh karena itu setiap guru pada saat melaksanakan kegiatan pembelajaran jangan abaikan perencanaan pembelajaran, agar kegiatan kita dapat terkontrol.
4) Perencanaan sebagai alat evaluasi
Pada saat merumuskan tujuan atau indikator pembelajaran yang menjadi salah satu unsur dalam perencanaan pembelajaran, maka gambaran hasil yang akan atau harus dicapai sudah tergambarkan dengan jelas. Artinya perencanaan pembelajaran menggambarkan hasil. Sejauhmana sasaran pembelajaran yaitu tujuan atau indikator pembelajaran telah tercapai atau tidak. Diketahui melalui kegiatan evaluasi. Dengan demikian maka fungsi berikutnya dari perencanaan pembelajaran   adalah sebagai alat evaluasi “intuctional design identifies and remedies weaknesses as a part of instructional evaluation” (Regeluth, 1983).
Evaluasi dapat memberikan data atau hasil yang akurat jika tujuan atau indikator pembelajaran dirumuskan secara akurat pula. Oleh kerena itu dalam panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dijelaskan “indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik  peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur atau dapat diobservasi”. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian (evaluasi).







Bagaimana membuat prencanaan ?

Adapun cara membuaat perencanaan pembelajaran yaitu meliputi komponen-komponen Peencanaan Pembelajaran .Menurut Masitoh dalam bukunya yang berjudul Perencanaan Pembelajaran (2005), bahwa komponen-komponen perencanaan pembelajaran diantaranya terdiri dari:
(1) tujuan pembelajaran
(2) isi (materi pembelajaran)
(3) kegiatan pembelajaran (kegiatan belajar mengajar)
(4) media dan sumber belajar; dan
(5) evaluasi.
Sedangkan menurut M. Sobry Sutikno dalam bukunya yang berjudul Belajar dan Pembelajaran (2008), mengatakan bahwa komponen pembelajaran itu terdiri atas tujuan pembelajaran, materi pelajaran, kegiatan belajar megajar, metode, media, sumber belajar, dan evaluasi. Yang membedakan antara komponen yang dikemukakan oleh keduanya adalah ada tidaknya metode pembelajaran didalam komponen-komponen perancanaan pembelajaran.Dibawah ini akan dibahas mengenai komponen-komponen perencanaan pembelajaran diatas.

1.                  Tujuan Pembelajaran                                                                                              
           
            Tujuan pembelajaran merupakan komponen pertama dalam perencanaan pembelajaran. Tujuan mengawali komponen yang lainnya. Dalam merencanakan pembelajaran tujuan harus jelas, karena dengan tujuan yang jelas guru dapat memproyeksikan hasil belajar yang harus dicapai setelah anak belajar. Gagasan perlunya tujuan dalam pembelajaran pertama kali dikemukakan oleh B.F. Skinner pada tahun 1950. Kemudian diikuti oleh Robert Mager pada tahun 1962 yang dituangkan dalam bukunya yang berjudul Preparing Instruction Objective.             Menurut Robert Mager (1996) “jika kita tidak memiliki gagasan yang jelas tentang tujuan apa yang harus dicapai oleh anak, maka kita tidak akan dapat membuat perencanaan yang baik untuknya”. Sejak pada tahun 1970 hingga sekarang penerapannya semakin meluas hampir di seluruh lembaga pendidikan di dunia, termasuk di Indonesia.    
Meski para ahli memberikan rumusan tujuan pembelajaran yang beragam, tetapi semuanya menunjuk pada esensi yang sama, bahwa : (1) tujuan pembelajaran adalah tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran; (2) tujuan dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau deskripsi yang spesifik. Yang menarik untuk digarisbawahi yaitu dari pemikiran Kemp dan David E. Kapel bahwa perumusan tujuan pembelajaran harus diwujudkan dalam bentuk tertulis. Hal ini mengandung implikasi bahwa setiap perencanaan pembelajaran seyogyanya dibuat secara tertulis (written plan).
Upaya merumuskan tujuan pembelajaran dapat memberikan manfaat tertentu, baik bagi guru maupun siswa. Nana Syaodih Sukmadinata (2002) mengidentifikasi 4 (empat) manfaat dari tujuan pembelajaran, yaitu: (1) memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar mengajar kepada siswa, sehingga siswa dapat melakukan perbuatan belajarnya secara lebih mandiri; (2) memudahkan guru memilih dan menyusun bahan ajar; (3) membantu memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media pembelajaran; (4) memudahkan guru mengadakan penilaian.    

2.      Isi (Materi Pembelajaran)         
Materi pembelajaran merupakan unsur belajar yang penting mendapat perhatian oleh guru. Materi pelajaran merupakan medium untuk mencapai tujuan pembelajaran yang “dikonsumsi” oleh siswa. Karena itu, penentuan materi pelajaran mesti berdasarkan tujuan yang hendak dicapai, misalnya berita pengetahuan, penampilan, sikap dan pengalaman lainnya  Nana Sujana (2000) menjelaskan ada beberapa hal yang harus di perhatikan dalam menetapkan materi pelajaran diantaranya :                 
a. Materi pelajaran harus sesuai dan menunjang tercapainya tujuan
b.   Menetapkan materi pembelajaran harus serasi dengan urutan tujuan
c.    Materi pelajaran disusun dari hal yang sederhana menuju yang komplek
d.   Sifat materi pelajaran, ada yang factual dan ada yang konseptual

Dalam merancang kegiatan belajar, kegiatan harus dirumuskan secara jelas dan rinci. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan kegiatan belajar mengajar dapat dicermati sebagai berikut.                
a. Kegitan harus berorientasi pada tujuan.                   
b. Kemampuan yang harus dicapai anak adalah melalui praktik langsung.      
c. Kegiatan pembelajaran harus berorientasi pada perkembangan.        
d.Kegiatan pembelajaran harus berorientasi pada kegiatan yang berpusat pada tema.
e.    Kegiatan pembelajaran harus berorientasi pada tujuan pendidikan.
f.    Kegiatan pembelajaran menggambarkan pembelajaran yang berpusat pada siswa atau peserta didik.
g.   Kegiatan pembelajaran harus menggambarkan kegiatan yang menyenangkan.
h.   Walaupun penetapan kegiatan berorientasi pada siswa, kegiatan harus memungkinkan bagaimana guru dapat membantu siswa belajar.
1.      Metode  
Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru dengan penggunan yang bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Tujuan dan materi yang baik belum tentu memberikan hasil yang baik tanpa memilih dan menggunakan metode yang sesuai dengan tujuan dan materi pelajaran. Pupuh Fathurrohman dan M. Sobry Sutikno (2007) menguraikan beberapa faktor yang mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode anatara lain: tujuan yang hendak dicapai, materi pelajaran, siswa, situasi, fasilitas, dan guru.Adapun macam-macam metode yang dapat dipakai dalam proses pembelajaran yaitu:    
a) Metode Ceramah                   
b) Metode Tanya Jawab             
c) Metode Diskusi            
d) Metode Demonstrasi         
e) Metode Kisah/Cerita          
f) Metode Simulasi      
g) Metode Karya Wisata               
h) Metode Tutorial     
i) Metode Suri Teladan          
j) Pengajaran Tim (Team Teaching)     
k) Metode Praktek     
l) Metode Kerja Kelompok          
m) Metode Penugasan

4.    Media dan Sumber Belajar                   
Media adalah segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana sehingga tercifta lingkungan yang kondusif di mana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efesien dan efektif (Yudhi Munadi,2008 :8)     . Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat di pergunakan sebagai tempat di mana materi sumber belajar terdapat. Menurut Nasution (2000) sumber belajar dapat berasal dari masyarakat dan kebudayaannya, ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan siswa. Pemanfaatan sumber belajar tersebut tergantung pada kreatifitas guru, waktu, biaya serta kebijakan-kebijakan lainnya. Sumber belajar tidak hanya terbatas pada bahan dan alat yang di pergunakan dalam proses pembelajaran, melainkan juga tenaga, biaya, dan fasilitas.Sumber belajar dapat di bedakan menjadi dua, yaitu:          
a. Sumber belajar yang di rencanakan adalah semua sumber yang secara khusus telah   dikembangkan sebagai komponen system pembelajaran, untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal.                     
b. Sumber belajar karena di manfaatkan adalah sumber-sumber yang tidak secara khusus di desain untuk keperluan pembelajaran, namun dapat di temukan, di aplikasikan, dan di gunakan untuk keperluan belajar.                                                                                                              
Media dan sumber belajar merupakan faktor yang harus dipertimbangkan dalam merencanakan pembelajaran. Media dan sumber belajar yang dipilih harus sesuai dengan kegiatan dan dapat memberikan pengalaman yang cocok bagi siswa. Guru juga harus memutuskan bagaimana media dan sumber belajar tersebut di sediakan dan bagaimana kegiatan di organisasikan. Hal lain yang harus dipertimbangkan adalah sejauh mana sumber-sumber belajar dapat memberi dukungan terhadap proses belajar siswa. Pemilihan media dan sumber belajar harus mempertimbangkan karakteristik perkembangan dan karakteristik belajar anak. Untuk kelas-kelas yang berpusat pada anak media sudah di tata dalam setiap area. Dengan media dan sumber belajar anak dapat melakukan ekplorasi, observasi dan memungkinkan anak dapat meliatkan seluruh inderanya seperti melihat, menyentuh, meraba, mencium dan merasakan.
5        Evaluasi
Menurut M Sobby Sutikno (2007 :40) evalusi adalah suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai dari suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Sedangkan menurut Masitoh,dkk (2005 :47) evaluasi adalah suatu proses memilih mengumpulkan dan menafsirkan informasi utuk membuat keputusan. Dalam perencanaan pembelajaran evaluasi dimaksudkan untuk mengukur apakah tujuan atau kemampuan yang sudah di tetapkan dapat tercapai.Jadi, evaluasi merupakan aspek yang penting, yang berguna untuk mengukur dan menilai seberapa jauh tujuan pembelajaran telah tercapai atau hingga mana terdapat kemajuan siswa, dan bagaiman tingkat keberhasilan sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut. Berdasarkan UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Pasal 58 (1) evaluasi belajar siswa dilakukan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar siswa secara berkesinambungan. Untuk melakukan evaluasi diperlukan syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat umum evaluasi yaitu:      

a. Validitas                   
b. Realiabilitas            
c. Objektivitas              
d. Efisiensi                    
e. Kegunaan / kepraktisan.          
Selain syarat-syarat umum evaluasi diatas, dalam evaluasi juga terdapat teknik-tekniknya. Pada umumnya, teknik evaluasi ada dua macam, yaitu dengan menggunakan tes dan non-tes (M. Sobry Sutikno,2008:118-)

Cara membuat tujuan pembelajaran


      Tujuan pembelajaran haruslah mengandung unsur-unsur ABCD: audience, behavior, condition, degree.  
1.                  Audience (A) berarti siapakah yang harus mencapai tujuan pembelajaran itu. misal, unsur A ini adalah siswa/peserta didik (kelas III). 
2.                  Behavior (B) menunjukkan perilaku yang diharapkan (dapat pada ranah kognitif, afektif, atau psikomotorik). Contoh behavior yaitu: menunjukkan berbagai sumber energi. 
3.                  Condition (C) menunjukkan pada kondisi bagaimana perilaku tersebut ditampilkan. Sebagai contoh: perilaku mengklasifikasikan berbagai energi atas dasar sumbernya ini dapat ditampilkan siswa bila kepada siswa diberikan gambar yang relevan. 
4.                  Degree (D) menunjukkan derajat pencapaian sebagai kriteria untuk menentukan seseorang telah mencapai tujuan. Sebagai contoh: dengan benar, paling sedikit 4 macam, dan lain-lain.
      Berikut ini adalah beberapa contoh tujuan pembelajaran pada RPP di Sekolah Dasar, terutama pada mata pelajaran IPA: 
·                     Melalui pengamatan bagian-bagian bunga (condition),  peserta didik (audience) dapat  menyebutkan (behaviour) paling sedikit empat bagian-bagian bunga (degree).
·                     Melalui praktik mencangkok (condition), peserta didik (audience) dapat mendemonstrasikan cara-cara mencangkok (behaviour) dengan runtut (degree).
·                     Melalui percobaan uji kandungan vitamin C pada buah-buahan tertentu (condition), peserta didik (audience) dapat membedakan buah yang mengandung vitamin C dan yang tidak mengandung vitamin C (behaviour)  dengan tepat (degree).
·                     Melalui operasional peraga torso manusia (condition), peserta didik (audience) dapat menjelaskan proses pencernaan makanan (behaviour)  dengan runtut (degree).
·                     Melalui operasional peraga daun (condition), peserta didik (audience) dapat mengklasifikasikan daun berdasarkan ciri-ciri yang dimiliki (behaviour) dengan tepat (degree).











Kesimpulan

Dari hasil pembahasan di atas, maka dapatlah ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1.    Perencanaan adalah hal yang sangat esensial karena dalam kenyataanya perencanaan memegang peranan lebih bila dibandng dengan fungsi-fungsi manajemen yang lainnya, yaitu pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan.

2.     dikarenakan pembelajaraan adalah  proses yang diatur menurut langkah-langkah tertentu (sistematis) melibatkan berbagai unsur atau komponen pembelajaran secara terpadu (sistemik). Pengaturan yang dilakukan secara sistematis dan sistemik dimaksudkan agar proses pembelajaran dapat berjalan secara logis, efektif dan efisien.

3.   bahwa komponen pembelajaran itu terdiri atas tujuan pembelajaran, materi pelajaran, kegiatan belajar megajar, metode, media, sumber belajar, dan evaluasi. Yang membedakan antara komponen yang dikemukakan oleh keduanya adalah ada tidaknya metode pembelajaran didalam komponen-komponen perancanaan pembelajaran














Daftar pustaka