MAKALAH PERENCANAAN PEMBELAJARAN
Disusun oleh
DIANA MELIANTIKA(06121014022)
Dosen pembimbing
Dra.MASITOH M.Pd
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
Bab 1
Pendahuluan
A. Latar belakang
Perencanaan
merupakan proses awal dimana memutuskan tujuan dan cara pencapaiannya.
Perencanaan adalah hal yang sangat esensial karena dalam kenyataanya
perencanaan memegang peranan lebih bila dibanding dengan fungsi-fungsi
manajemen yang lainnya, yaitu pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan.
Dimana fungsi-fungsi manajemen tersebeut sebenarnya hanya merupakan pelaksanaan
dari hasil sebuah perencanaan seorang guru harus memiliki perencannan
dalam mengajarnya karena dengan perencanaan guru memiliki materi atau bahan mengajar yang cukup baik.
Pembelajaran adalah perpaduan dari dua aktivitas,
yaitu aktivitas mengajar dan aktivitas belajar. Aktivitas mengajar menyangkut
peranan seorang guru dalam konteks mengupayakan terciptanya jalinan komunikasi
harmonis antara pengajar itu sendiri dengan si pembelajar. oleh karena itu kita
sebagai pendidik sebaiknya membuat rancangan pembelajaran yang dapat diterapkan
dengan baik saat proses belajar-menajar berlangsung.
B.
Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas,
maka rumusan masalah dalam makalah ini antara lain:
1.
apa pengertian
perncenaan?
2.
Alasan
mengapa guru PAUD harus memiliki perencanaan ?
3. Bagaimana membuat prencanaan ?
C. Tujuan
Berdasarkan
rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah untuk
mengetahui tentang:
1. untuk
mengetahui Pengertian perencanaan
2. untuk
mengetahui Alasan mengapa guru PAUD harus memiliki
perencanaan ?
3 .untuk mengetahui Bagaimana membuat prencanaan
Apa
itu perencanaaan ?
Perencanaan terjadi pada semua
kegiatan. Perencanaan merupakan proses awal dimana manajemen memutuskan
tujuan dan cara pencapaiannya. Perencanaan adalah hal yang sangat
esensial karena dalam kenyataanya perencanaan memegang peranan lebih bila
dibandng dengan fungsi-fungsi manajemen yang lainnya, yaitu pengorganisasian,
pengarahan, dan pengawasan. Dimana fungsi-fungsi manajemen tersebeut sebenatnya
hanya merupakan pelaksanaan dari hasil sebuah perencanaan
Perencanaan pembelajaran adalah catatan-catatan hasil
pemikiran awal seorang guru sebelum mengelola proses pembelajaran. Masih dalam
sumber yang sama, perencanaan pembelajaran adalah persiapan mengajar yang
berisi hal-hal yang perlu atau harus dilakukan oleh guru dan siswa dalam
melaksanakan kegiatan pembeajaran yang antara lain meliputi unsur-unsur:
pemilihan materi, metode, media, dan alat evaluasi. Perencanaan pembelajaran adalah apa yang akan
dikerjakan guru dan siswa di dalam kelas dan di luar kelas (Reiser 1986 dalam Djoehaeni: 4). Perencanaan pembelajaran adalah
memproyeksikan tindakan apa yang akan dilaksanakan dalam suatu pembelajaran (Sujana 1988 dalam Djoehaeni 2009: 5). Perencanaan pengajaran adalah kegiatan
merumuskan tujuan apa yang akan dicapai oleh suatu kegiatan pengajaran, cara
apa yang dipakai untuk menilai tujuan tersebut, materi bahan apa yang akan
disampaikan, bagaimana cara menyampaikannya, serta alat atau media apa yang
diperlukan (Ibrahim 1993 dalam Djoehaeni
2009: 6). Apabila melihat definisi di atas dan
pada beberapa sumber lain, seringkali terjadi penggunaan istilah “perencanaan
pembelajaran” dan “perencanaan pengajaran”. Bahkan ditemukan pula pada salah
satu buku, judul bukunya “Perencanaan Pembelajaran”, tapi sub bahasan di
dalamnya menggunakan istilah “Perencanaan Pengajaran”. Termasuk definisi di
atas (Ibrahim 1993 dalam Djoehaeni
2009: 6) juga ditemukan pada rangkaian sub bahasan “Pengertian Perencanaan
Pembelajaran”. Apakah kedua istilah tersebut sama? Mari kita ingat dari kata dasarnya atau makna harfiah.
Dari kedua istilah di atas, perbedaannya terjadi pada kata “pembelajaran” dan
“pengajaran”. Dalam KBBI, pembelajaran adalah proses, cara, perbuatan
menjadikan orang atau makhluk hidup belajar (Pusat Bahasa 2005: 17).
Masih dalam sumber yang sama, pengajaran adalah proses, cara, perbuatan
mengajar atau mengajarkan. Apabila kita memperhatikan pengertian di atas, maka
pembelajaran tampaknya lebih memberikan kesan lebih baik atau lebih mendalam,
yakni menumbuhkan keinginan belajar pada siswa. Sedangkan pengajaran tampaknya
lebih terfokus pada proses transfer ilmu dari guru kepada siswa. Adapun siswa
mengerti atau tidak, termotivasi untuk belajar mandiri atau tidak, semuanya
tidaklah tercakup pada nilai-nilai dari sebuah pengajaran.
Berikut ini adalah pengertian dan definisi
perencanaan:
# INDRA BASTIAN
Perencanaan
adalah suatu proses yang tidak pernah berakhir. Apabila sebuah rencana telah
ditetapkan, maka dokumen menyangkut perencanaan terkait harus diimplementasikan
Perencanaan
adalah pemilihan sekumpulan kegiatan dan pengambilan keputusan tentang
"apa yang harus dilakukan, kapan, bagaimana, dan oleh siapa.
# DEACON
Perencanaan
adalah upaya menyusun berbagai keputusan yang bersifat pokok, yang dipandang
paling penting dan yang akan dilaksanakan menurut urutannya guna mencapai
tujuan yang telah ditetapkan
# DRUCKER
Perencanaan
adalah suatu proses yang diorganisasi dan dilaksanakan secara sistematis dengan
emnggunakan pengetahuan yang ada sesuai keputusan yang telah ditetapkan bersama
# GOETZ
Perencanaan
adalah kemampuan memilih satu kemungkinan dari berbagai kemungkinan yang
tersedia dan yang dipandang paling tepat untuk mencapai tujuan.
# ANONIM
Perencanaan
adalah suatu rangkaian kegiatan yang disusun secara sistematis untuk mencapai
yujuan yang telah ditetapkan . diputuskan bersama
# GEORGE PICKETT & JOHN J.
HANLON
Perencanaan
adalah proses menentukan bagaimana mencapai suatu tujuan begitu tujuan itu
ditetapkan
# STONER
Perencanaan
adalah proses menetapkan sasaran dan tindakan yang perlu untuk mencapai sasaran
tadi. Perencanaan adalah proses
menetapkan sasaran atau tujuan dan tindakan yang perlu untuk mencapai tujuan
(goal) tersebut
# CUNINGHAM
Perencanaan
adalah menyelesi dan menghubungkan pengetahuan, fakta, imajinasi, dan asumsi
untuk masa yang akan datang dengan tujuan memvisualisasi dan emformulasi hasil
yang diinginkan, urutan kegiatan yang diperlukan, dan perilaku dalam
batas-batas yang dapat diterima dan digunakan dalam penyelesaian
# HUSEIN UMAR
Perencanaan
merupakan kegiatan atau proses membuat rencana yang kelak dipakai perusahaan
dalam rangka melaksanakan pencapaian tujuannya
Jadi, perencanaan pembelajaran adalah rencana yang dibuat
oleh guru untuk memproyeksikan kegiatan apa yang akan dilakukan oleh guru dan
siswa agar tujuan dapat tercapai.
Alasan
mengapa guru PAUD harus memiliki perencanaan ?
Alasannya dikarenakan pembelajaraan
adalah proses yang diatur menurut langkah-langkah tertentu (sistematis)
melibatkan berbagai unsur atau komponen pembelajaran secara terpadu (sistemik).
Pengaturan yang dilakukan secara sistematis dan sistemik dimaksudkan agar
proses pembelajaran dapat berjalan secara logis, efektif dan efisien.
Pengaturan ini secara praktis dibuat dalam bentuk perencanaan mengajak.
Perencanaan pembelajaran
adalah suatu proyeksi mengenai kegiatan atau proses yang akan
dilakukan selama pembelajaran berlangsung. Dalam Peraturan
Peraturan PP No. 19 tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan , bahwa perencanaan pembelajaran
tersebut meliputi dua jenis yaitu : pertama Silabus Pembelajaran dan kedua
Rencana Pelaksaaan Pembelajaran” (BAB IV Pasal 20). Perencanaan
pembelajaran (intuctional desain), memperkirakan dan memproyeksikan tindakan
atau aktivitas yang akan dilakukan pada saat pembelajaran. mengingat
perencanaan sebagai proyeksi kegiatan, maka kedudukannya dalam sistem
pembelajaran menjadi amat strategis. Anda dapat membayangkan apabila kegiatan
pembelajaran sebagai upaya untuk merubah perilaku siswa, dan tidak melalui
perencanaan yang matang, maka dapat dibayangkan akan seperti apa proses
pembelajaran itu. Dampaknya terhadap proses dan hasil pembelajaran secara
khusus dan penyidikan pada umumnya sulit diprediksi. Andai kita boleh
membandingkan, dilihat dari resiko atau dampak yang dapat ditimbulkan,
nampaknya lebih berbahaya pembelajaran yang tidak direncanakan dari pada
membuat satu bangunan rumah. Keduanya beresiko, tapi karena pembelajaran
langsung berhubungan dengan “pencetakan manusia”, kerugian akan lebih patal
dibandingkan dengan bentuk bangunan yang dihasilkan jika tanpa perencanaan.
Disinilah letak atau esensi pentingnya perencanaan pembelajaran, terutama
dilihat dari beberapa segi sebagai berikut:
Pertimbangan
Praktis
1) Perencanaan sebagai pedoman atau panduan
Dengan perencanaan yang telah
dibuat, maka guru ketika melaksanakan proses pembelajaran secara umum akan
mengikuti langkah-langkah atau prosedur dan aktivitas pembelajaran
disesuaikan dengan rencana yang telah dibuat sebelumnya. Dengan demikian pada
saat mengajar guru selalu menggunakan perencanaan sebagai pedoman “ Intuctional design describe procedures
for intructional implementation ” (Reigeluth. 1983 : 10).
Apabila setiap guru ketika mengajar
selalu membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dan secara disiplin patuh
terhadap perencanaan yang telah dibuat ketika mengajarnya, maka tidak
akan terjadi adanya kesenjangan antara pelaksanakan pembelajaran dengan
kurikulum yang ada di atasnya, seperti dengan silabus pembelajaran dengan
kurikulum tingkat satuan pendidikan dan lebih jauh lagi dengan sasaran tujuan
pendidikan nasional.
2) Perencanaan menggambarkan hasil
Perencanaan selain merupakan
gambaran proyeksi kegiatan yang akan dilakukan, juga melalui fungsi praktis
perencanaan pembelajaran adalah menggambarkan hasil yang akan atau harus
dicapai dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan.
Perencanaan adalah proses dan cara
berpikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapkan (Ely, 1979). Oleh karena itu untuk
merumuskan tujuan pembelajaran sebagai bagian dari sistem perencanaan
pembelajaran, indikator atau tujuan pembelajaran harus dirumuskan dalam bentuk
tingkah laku operasional yang terukur. Melalui rumusan tujuan/indikator
yang operasional sasaran hasil pembelajaran yang akan atau harus dicapai
siswa sudah tergambarkan secara jelas. Itulah salah satu ciri dari fungsi
perencanaan pembelajaran menggambarkan hasil.
3) Perencanaan sebagai alat kontrol
Sasaran utama kegiatan pembelajaran
adalah tercapainya tujuan pembelajaran , indikator tercapainya tujuan
pembelajaran adalah “perubahan perilaku“ pada setiap siswa. Perubahan perilaku
baik dalam bentuk pengetahuan, sikap maupun keterampilan adalah perubahan yang
disengaja atau direncanakan. Oleh karena itu setiap kegiatan pembelajaran baik
dilakukan di dalam kelas maupun diluar kelas selalau harus dalam kegiatan
terencana dan terkontrol. Reigeluth menyatakan “Intructional design describe procedure for intructional management”.
Management dalam kata lain adalah
pengelolaan, salah asatu unsur dari pengelolaan itu pengawasan atau kontrol.
Maksud dari kegiatan pengawasan atau kontrol adalah untuk mengetahui
pelaksanaan atau kegiatan yang dilakukan apakah berjalan sesuai dengan yang
direncanakan atau tidak. Dari pengontrolan ini juga dapat diketahui apakah
berbagai sumber kegiatan dapat digunakan secara efektif dan efisien.
Dengan adanya perencanaan
pembelajaran yang berfungsi sebagai alat kontrol, maka apabila terjadi adanya
kegiatan pembelajaran yang tidak sesuai dengan skenario pembelajaran akan
segera diketahui dan pada saat itu pula pembelajaran dikembalikan kepada
rencana yang telah disusun. Dengan demikian peluang terjadinya in-efisiensi dan
in-efektivitas dalam proses dan hasil pembelajaran akan bisa dikurangi. Oleh
karena itu setiap guru pada saat melaksanakan kegiatan pembelajaran jangan
abaikan perencanaan pembelajaran, agar kegiatan kita dapat terkontrol.
4) Perencanaan sebagai alat evaluasi
Pada saat merumuskan tujuan atau
indikator pembelajaran yang menjadi salah satu unsur dalam perencanaan
pembelajaran, maka gambaran hasil yang akan atau harus dicapai sudah
tergambarkan dengan jelas. Artinya perencanaan pembelajaran menggambarkan
hasil. Sejauhmana sasaran pembelajaran yaitu tujuan atau indikator pembelajaran
telah tercapai atau tidak. Diketahui melalui kegiatan evaluasi. Dengan demikian
maka fungsi berikutnya dari perencanaan pembelajaran adalah sebagai
alat evaluasi “intuctional design
identifies and remedies weaknesses as a part of instructional evaluation”
(Regeluth, 1983).
Evaluasi dapat memberikan data atau
hasil yang akurat jika tujuan atau indikator pembelajaran dirumuskan secara
akurat pula. Oleh kerena itu dalam panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan
pendidikan dijelaskan “indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik
peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan
dalam kata kerja operasional yang terukur atau dapat diobservasi”. Indikator
digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian (evaluasi).
Bagaimana
membuat prencanaan ?
Adapun
cara membuaat perencanaan pembelajaran yaitu meliputi komponen-komponen Peencanaan
Pembelajaran .Menurut Masitoh dalam bukunya yang berjudul
Perencanaan Pembelajaran (2005), bahwa komponen-komponen perencanaan
pembelajaran diantaranya terdiri dari:
(1) tujuan
pembelajaran
(2) isi
(materi pembelajaran)
(3)
kegiatan pembelajaran (kegiatan belajar mengajar)
(4) media
dan sumber belajar; dan
(5)
evaluasi.
Sedangkan
menurut M. Sobry Sutikno dalam bukunya yang berjudul Belajar dan Pembelajaran
(2008), mengatakan bahwa komponen pembelajaran itu terdiri atas tujuan
pembelajaran, materi pelajaran, kegiatan belajar megajar, metode, media, sumber
belajar, dan evaluasi. Yang membedakan antara komponen yang dikemukakan oleh
keduanya adalah ada tidaknya metode pembelajaran didalam komponen-komponen
perancanaan pembelajaran.Dibawah ini akan dibahas mengenai komponen-komponen
perencanaan pembelajaran diatas.
1.
Tujuan
Pembelajaran
Tujuan
pembelajaran merupakan komponen pertama dalam perencanaan pembelajaran. Tujuan
mengawali komponen yang lainnya. Dalam merencanakan pembelajaran tujuan harus
jelas, karena dengan tujuan yang jelas guru dapat memproyeksikan hasil belajar
yang harus dicapai setelah anak belajar. Gagasan perlunya tujuan dalam
pembelajaran pertama kali dikemukakan oleh B.F. Skinner pada tahun 1950.
Kemudian diikuti oleh Robert Mager pada tahun 1962 yang dituangkan dalam
bukunya yang berjudul Preparing Instruction Objective. Menurut Robert Mager (1996) “jika kita tidak
memiliki gagasan yang jelas tentang tujuan apa yang harus dicapai oleh anak,
maka kita tidak akan dapat membuat perencanaan yang baik untuknya”. Sejak pada
tahun 1970 hingga sekarang penerapannya semakin meluas hampir di seluruh
lembaga pendidikan di dunia, termasuk di Indonesia.
Meski para ahli memberikan rumusan tujuan pembelajaran yang beragam, tetapi
semuanya menunjuk pada esensi yang sama, bahwa : (1) tujuan pembelajaran adalah
tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti
kegiatan pembelajaran; (2) tujuan dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau
deskripsi yang spesifik. Yang menarik untuk digarisbawahi yaitu dari pemikiran
Kemp dan David E. Kapel bahwa perumusan tujuan pembelajaran harus diwujudkan
dalam bentuk tertulis. Hal ini mengandung implikasi bahwa setiap perencanaan
pembelajaran seyogyanya dibuat secara tertulis (written plan).
Upaya merumuskan tujuan pembelajaran dapat memberikan manfaat tertentu, baik
bagi guru maupun siswa. Nana Syaodih Sukmadinata (2002) mengidentifikasi 4
(empat) manfaat dari tujuan pembelajaran, yaitu: (1) memudahkan dalam
mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar mengajar kepada siswa, sehingga siswa
dapat melakukan perbuatan belajarnya secara lebih mandiri; (2) memudahkan guru
memilih dan menyusun bahan ajar; (3) membantu memudahkan guru menentukan
kegiatan belajar dan media pembelajaran; (4) memudahkan guru mengadakan
penilaian.
2. Isi
(Materi Pembelajaran)
Materi pembelajaran merupakan unsur belajar yang penting mendapat perhatian
oleh guru. Materi pelajaran merupakan medium untuk mencapai tujuan pembelajaran
yang “dikonsumsi” oleh siswa. Karena itu, penentuan materi pelajaran mesti
berdasarkan tujuan yang hendak dicapai, misalnya berita pengetahuan,
penampilan, sikap dan pengalaman lainnya. Nana Sujana
(2000) menjelaskan ada beberapa hal yang harus di perhatikan dalam menetapkan
materi pelajaran diantaranya :
a. Materi pelajaran harus sesuai dan menunjang tercapainya tujuan
b. Menetapkan
materi pembelajaran harus serasi dengan urutan tujuan
c. Materi
pelajaran disusun dari hal yang sederhana menuju yang komplek
d. Sifat
materi pelajaran, ada yang factual dan ada yang konseptual
Dalam
merancang kegiatan belajar, kegiatan harus dirumuskan secara jelas dan rinci.
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan kegiatan belajar mengajar
dapat dicermati sebagai berikut.
a. Kegitan harus berorientasi pada tujuan.
b. Kemampuan yang harus dicapai anak adalah melalui praktik langsung.
c. Kegiatan pembelajaran harus berorientasi pada perkembangan.
d.Kegiatan pembelajaran harus berorientasi pada kegiatan yang berpusat pada
tema.
e. Kegiatan
pembelajaran harus berorientasi pada tujuan pendidikan.
f. Kegiatan
pembelajaran menggambarkan pembelajaran yang berpusat pada siswa atau peserta
didik.
g. Kegiatan
pembelajaran harus menggambarkan kegiatan yang menyenangkan.
h. Walaupun
penetapan kegiatan berorientasi pada siswa, kegiatan harus memungkinkan
bagaimana guru dapat membantu siswa belajar.
1. Metode
Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru dengan penggunan
yang bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Tujuan dan materi yang
baik belum tentu memberikan hasil yang baik tanpa memilih dan menggunakan
metode yang sesuai dengan tujuan dan materi pelajaran. Pupuh Fathurrohman dan
M. Sobry Sutikno (2007) menguraikan beberapa faktor yang mempengaruhi pemilihan
dan penentuan metode anatara lain: tujuan yang hendak dicapai, materi
pelajaran, siswa, situasi, fasilitas, dan guru.Adapun macam-macam metode yang
dapat dipakai dalam proses pembelajaran yaitu:
a) Metode Ceramah
b) Metode Tanya Jawab
c) Metode Diskusi
d) Metode Demonstrasi
e) Metode Kisah/Cerita
f) Metode Simulasi
g) Metode Karya Wisata
h) Metode Tutorial
i) Metode Suri Teladan
j) Pengajaran Tim (Team Teaching)
k) Metode Praktek
l) Metode Kerja Kelompok
m) Metode Penugasan
4. Media dan
Sumber Belajar
Media adalah segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari
sumber secara terencana sehingga tercifta lingkungan yang kondusif di mana
penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efesien dan efektif (Yudhi
Munadi,2008 :8) . Sumber belajar adalah segala sesuatu
yang dapat di pergunakan sebagai tempat di mana materi sumber belajar terdapat.
Menurut Nasution (2000) sumber belajar dapat berasal dari masyarakat dan
kebudayaannya, ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan siswa.
Pemanfaatan sumber belajar tersebut tergantung pada kreatifitas guru, waktu,
biaya serta kebijakan-kebijakan lainnya. Sumber belajar tidak hanya terbatas
pada bahan dan alat yang di pergunakan dalam proses pembelajaran, melainkan
juga tenaga, biaya, dan fasilitas.Sumber belajar dapat di bedakan menjadi dua,
yaitu:
a. Sumber belajar yang di rencanakan adalah semua sumber yang secara khusus
telah dikembangkan sebagai komponen system pembelajaran, untuk
memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat
formal.
b. Sumber belajar karena di manfaatkan adalah sumber-sumber yang tidak secara
khusus di desain untuk keperluan pembelajaran, namun dapat di temukan, di
aplikasikan, dan di gunakan untuk keperluan belajar.
Media dan sumber belajar merupakan faktor yang harus dipertimbangkan dalam
merencanakan pembelajaran. Media dan sumber belajar yang dipilih harus sesuai
dengan kegiatan dan dapat memberikan pengalaman yang cocok bagi siswa. Guru
juga harus memutuskan bagaimana media dan sumber belajar tersebut di sediakan
dan bagaimana kegiatan di organisasikan. Hal lain yang harus dipertimbangkan
adalah sejauh mana sumber-sumber belajar dapat memberi dukungan terhadap proses
belajar siswa. Pemilihan media dan sumber belajar harus mempertimbangkan
karakteristik perkembangan dan karakteristik belajar anak. Untuk kelas-kelas
yang berpusat pada anak media sudah di tata dalam setiap area. Dengan media dan
sumber belajar anak dapat melakukan ekplorasi, observasi dan memungkinkan anak
dapat meliatkan seluruh inderanya seperti melihat, menyentuh, meraba, mencium
dan merasakan.
5 Evaluasi
Menurut M Sobby Sutikno (2007 :40) evalusi adalah suatu tindakan atau proses
untuk menentukan nilai dari suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan
nilai dari sesuatu. Sedangkan menurut Masitoh,dkk (2005 :47) evaluasi adalah
suatu proses memilih mengumpulkan dan menafsirkan informasi utuk membuat
keputusan. Dalam perencanaan pembelajaran evaluasi dimaksudkan untuk mengukur
apakah tujuan atau kemampuan yang sudah di tetapkan dapat tercapai.Jadi,
evaluasi merupakan aspek yang penting, yang berguna untuk mengukur dan menilai
seberapa jauh tujuan pembelajaran telah tercapai atau hingga mana terdapat
kemajuan siswa, dan bagaiman tingkat keberhasilan sesuai dengan tujuan
pembelajaran tersebut. Berdasarkan UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Pasal 58 (1)
evaluasi belajar siswa dilakukan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan
hasil belajar siswa secara berkesinambungan. Untuk melakukan evaluasi
diperlukan syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat umum evaluasi
yaitu:
a. Validitas
b. Realiabilitas
c. Objektivitas
d. Efisiensi
e. Kegunaan / kepraktisan.
Selain syarat-syarat umum evaluasi diatas, dalam evaluasi juga terdapat
teknik-tekniknya. Pada umumnya, teknik evaluasi ada dua macam, yaitu dengan
menggunakan tes dan non-tes (M. Sobry Sutikno,2008:118-)
Cara
membuat tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran haruslah mengandung unsur-unsur ABCD: audience, behavior, condition,
degree.
1.
Audience (A)
berarti siapakah yang harus mencapai tujuan pembelajaran itu. misal, unsur A
ini adalah siswa/peserta didik (kelas III).
2.
Behavior (B) menunjukkan
perilaku yang diharapkan (dapat pada ranah kognitif, afektif, atau
psikomotorik). Contoh behavior yaitu: menunjukkan berbagai sumber energi.
3.
Condition (C)
menunjukkan pada kondisi bagaimana perilaku tersebut ditampilkan. Sebagai
contoh: perilaku mengklasifikasikan berbagai energi atas dasar sumbernya ini
dapat ditampilkan siswa bila kepada siswa diberikan gambar yang relevan.
4.
Degree (D)
menunjukkan derajat pencapaian sebagai kriteria untuk menentukan seseorang
telah mencapai tujuan. Sebagai contoh: dengan benar, paling sedikit 4 macam,
dan lain-lain.
Berikut ini adalah beberapa contoh tujuan pembelajaran pada RPP di Sekolah
Dasar, terutama pada mata pelajaran IPA:
·
Melalui pengamatan bagian-bagian bunga (condition),
peserta didik (audience) dapat menyebutkan (behaviour)
paling sedikit empat bagian-bagian bunga (degree).
·
Melalui praktik mencangkok (condition),
peserta didik (audience) dapat mendemonstrasikan cara-cara mencangkok (behaviour)
dengan runtut (degree).
·
Melalui percobaan uji kandungan vitamin
C pada buah-buahan tertentu (condition), peserta didik (audience)
dapat membedakan buah yang mengandung vitamin C dan yang tidak mengandung
vitamin C (behaviour) dengan tepat (degree).
·
Melalui operasional peraga torso manusia
(condition), peserta didik (audience) dapat menjelaskan proses
pencernaan makanan (behaviour) dengan runtut (degree).
·
Melalui operasional peraga daun (condition),
peserta didik (audience) dapat mengklasifikasikan daun berdasarkan
ciri-ciri yang dimiliki (behaviour) dengan tepat (degree).
Kesimpulan
Dari hasil pembahasan di atas, maka dapatlah ditarik beberapa kesimpulan
sebagai berikut:
1. Perencanaan adalah hal yang sangat esensial
karena dalam kenyataanya perencanaan memegang peranan lebih bila dibandng
dengan fungsi-fungsi manajemen yang lainnya, yaitu pengorganisasian,
pengarahan, dan pengawasan.
2. dikarenakan pembelajaraan adalah
proses yang diatur menurut langkah-langkah tertentu (sistematis) melibatkan
berbagai unsur atau komponen pembelajaran secara terpadu (sistemik). Pengaturan
yang dilakukan secara sistematis dan sistemik dimaksudkan agar proses
pembelajaran dapat berjalan secara logis, efektif dan efisien.
3. bahwa komponen pembelajaran itu terdiri atas
tujuan pembelajaran, materi pelajaran, kegiatan belajar megajar, metode, media,
sumber belajar, dan evaluasi. Yang membedakan antara komponen yang dikemukakan
oleh keduanya adalah ada tidaknya metode pembelajaran didalam komponen-komponen
perancanaan pembelajaran
Daftar
pustaka